Momen Ambyar Ikut RuBI 2019


Semua orang berhak ikut sebagai Ruang Berbagi Ilmu (RuBI), entah sebagai relawan atau pun panitia. Meski begitu, ada sebuah proses mengapa kandidat relawan itu disaring. Yang pada akhirnya seleksi ini menjadi pembelajaran atau refleksi bagi pendaftar sendiri.


Hal inilah yang dialami Nurul Mukharam alias Adhe. Staf Learning and Development ini pernah gagal menjadi relawan untuk RuBI Salatiga. Baru di Lombok Utara, ia bisa bergabung.


"Tahu lolos jadi relawan malah bingung, ngajarinnya kayak gimana karena pertama kali," ucap Adhe kepada Tim Sosialiasi RuBI beberapa waktu lalu.


Ternyata kebingungan Adhe tidak sepenuhnya terjadi. Malah, ia mendapatkan 'respect' dari bapak ibu guru peserta RuBI Lombok Utara. Ia mengatakan, guru-gurunya kooperatif dan antusias pada saat penjelasan materi MBK (Metode Belajar Kreatif).


"Mereka itu ribut-ribut, kalau urusan games, pada enggak mau kalah," tambah Adhe.


Dari proses pelaksanaan RuBI Lombok Utara, Adhe merasa tersentil emosinya saat sesi refleksi. Pada sesi ini, peserta mengungkapkan keresahan serta harapan mereka untuk RuBI sekaligus mimpi pendidikan Indonesia.



"Mereka itu concern sama murid karena agak susah untuk menegur (mendisplinkan) anak," tambahnya.


Begitu sesi ini selesai, semua relawan duduk melingkar sembari diputarkan lagu Hymne Guru, tambah Adhe. Semua peserta saling memberikan semangat, motivasi, ucapan terima kasih, dan apresiasi lainnya.


"Ini momen bikin ambyar, langsung jleb. Kita dua hari saja berasa capai mengajarnya. Tapi mereka (guru-guru) bertahun-tahun dan mungkin kurang dihargai," ucap Adhe.


Ada haru, tangis yang sesenggukan pada sesi ini. "Selesai acara ini, mata sembab semua," beber Adhe.


Momen inilah yang membuat Adhe berpikir, ternyata masih banyak orang baik untuk kemajuan pendidikan Indonesia.


Dari pertemuan itu, Adhe #terusbelajar agar semangatnya tidak kalah seperti guru-guru peserta RuBI Lombok Utara.