Sudah Terlanjur Sayang, Uti Ikut RuBI 12 Kali



Dalam perjalanan Ruang Berbagi Ilmu (RuBI), nama Sri Utami Rustam menjadi salah satu relawan yang militan. Sebab, wanita keturunan Jawa-Sumatra itu telah mengikuti RuBI di 12 daerah. Terakhir, ia berangkat ke RuBI Kepulauan Sula pada 5-6 Oktober 2019.


“Alhamdulilah, Kepulauan Sula ini titik ke-12, ikutan RuBI ini bikin kita mempunyai banyak keluarga tambahan,” ungkap wanita yang akrab disapa Uti kepada Tim Sosialisasi RuBI.


Meski sudah terbiasa berbagi materi dengan guru, Uti mengaku ada tantangan saat bertugas di Kepulauan Sula. Ia mendapatkan tambahan tanggung jawab untuk menyampaikan materi terkait Motivasi Guru.


“Kalau di Kepulauan Sula, pendekatannya berbeda, kalau biasanya kita mengarahkan guru untuk memecahkan masalah, di sini lebih ke membuat peta keberhasilan,” tambah Uti.

Dengan gaya berbeda tersebut, Uti merasa tidak ada hal yang membebani. Malah ia sangat tertarik karena suasana kelas positif yang dibangun guru sejak awal hingga sesi berakhir.




Selain itu, perjalanan menuju Kepulauan Sula menjadi catatan tersendiri bagi Uti. Tidak hanya lokasi yang jauh, tetapi juga gelombangnya yang lumayan tinggi. “Kora-kora di Dunia Fantasi tidak ada apa-apanya,” ucap Uti.


Untuk mencapai lokasi RuBI, ia dengan rombongan terbang dari Jakarta menuju Ternate menggunakan pesawat. Lalu dilanjutkan ke Sanana. Dari situ, mereka harus menyeberang ke Falabisahaya menggunakan kapal.




Rasa lelah dalam perjalanan disambut dengan kehangatan warga Falabisahaya. Ia dan rombongan disambut dengan Tarian Cakalele dan Baronggeng. Mereka dibuatkan hidangan sate rusa, sambal dabu-dabu, hingga dicarikan es batu agar rombongan tidak kepanasan.


“Baik banget orang kampung-kampungnya Pak Camatnya malah sengaja ngajakin jalan-jalan ke peninggalan Barito (dulu perusahaan kayu) yang pernah menghidupkan perekonomian daerah itu,” tandas Uti.




Selain pengalaman dan keluarga baru, tambah Uti, mengikuti RuBI juga bisa menambah motivasi akan kehidupan. Sebab, Uti melihat banyak orang yang tulus dan rendah hati dalam acara tersebut. Seperti, guru-guru yang rela jalan kaki berjam-jam demi mengikuti RuBI.


“Gue justru banyak dapet insight dari mereka. Allah tuh punya aja cara buat ngingetin kita-kita. Nah yang beginian ini, enggak terukur dengan uang. Ga terbeli,” tambah Uti.


Rangkaian perjalanan dan pertemuan dengan orang-orang itulah yang membuat Uti “sudah terlanjur sayang sama RuBI”.